Yayasan ini juga sedang memperluas dewan penasihat globalnya secara aktif, dengan mengundang tokoh-tokoh terkemuka dari lima benua.
Termasuk mantan presiden, ilmuwan, diplomat, dan tokoh budaya—untuk membantu perencanaan strategis dan mendorong kolaborasi internasional dalam pelaksanaan inisiatif sosial yang berdampak.
Inti dari misi yayasan adalah komitmen terhadap kepentingan umum: memajukan upaya global dalam bidang pendidikan, kesehatan, perlindungan lingkungan, dan bantuan kemanusiaan.
Yayasan ini bertujuan membangun “model kerja sama yang dapat diverifikasi” yang di dukung oleh tata kelola yang transparan dan teknologi generasi berikutnya.
BACA JUGA:Emas Solusi Investasi, Transaksi Logam Mulia di BSI Bebas Antre
BACA JUGA:Dapur MBG Bakal Hadir di Jambi, Pilot Project bersama Jateng dan Jabar
Seperti yang di tekankan oleh para pendirinya.
“Bukan teknologi tertentu yang mengubah dunia—melainkan konsensus bersama terhadap institusi yang dapat dipercaya dan kerja sama global.”
AB Charity Foundation mendapat dukungan teknis dari AB DAO, yang menyediakan infrastruktur blockchain untuk mendukung operasional yayasan.
Melalui otomatisasi kontrak pintar, 15% hingga 30% dari biaya gas pada setiap transaksi di jaringan publik AB akan diarahkan ke dana amal khusus.
BACA JUGA:Peluncuran OREO SPACE DUNK, Biskuit Pertama di Dunia yang Menembus Luar Angkasa dari Indonesia
BACA JUGA:Kemitraan Strategis Indonesia dan Mesir, Tonggak Penting Hubungan Bilateral Kedua Negara
Mekanisme ini memungkinkan model operasional baru untuk pendanaan amal—menggabungkan penggalangan dana di blockchain, distribusi otomatis, audit penuh berbasis blockchain, dan jaminan kepatuhan dari pihak ketiga.
Selain itu, 15% hingga 30% dari hasil investasi yang dihasilkan oleh AB Ecosystem Fund juga akan disalurkan ke dana yayasan.









