“Kami mendapat bantuan sampai dengan saat ini telah mencapai 3.000 ekor indukan burung puyuh yang siap bertelur, kandang, pakan, 1 set instalasi minum berbasis otomasi, pelatihan.
Termasuk bantuan pendukung sumber energi baru terbarukan (PLTS mini) dari Bukit Asam,” ujarnya.
BACA JUGA: Dirut PTBA Raih Penghargaan The Best CEO Strategic Orientation
BACA JUGA: PTBA Gandeng Kejari Muara Enim, Jaga Kepatuhan Hukum
Telur puyuh bisa dijual di lingkungan sekitar dan pasar tradisional, serta diserap oleh PTBA untuk program Penanganan Stunting.
Dalam sehari, Kelompok Bangsal Pematang dapat memperoleh produksi 27 kg telur puyuh.
Omzet dari usaha ini mencapai kurang lebih Rp 30 juta per bulan.
Tak hanya telurnya, kotoran burung puyuh juga bernilai ekonomi karena dapat dimanfaatkan untuk diolah menjadi pupuk.
BACA JUGA: PT Jasa Marga dan PTBA Lanjutkan Kolaborasi
BACA JUGA: Kisah Anak Buruh Harian, Bisa Fokus Kuliah Berkat Beasiswa dari Bukit Asam
Kelompok Bangsal Pematang memasok kotoran puyuh ke sesama mitra binaan PTBA yang bergerak di bidang pembibitan tanaman, yaitu Sentra Industri Bukit Asam (SIBA) Pembibitan.
“Kita kerja sama dengan kelompok SIBA Pembibitan untuk suplai kotoran burung.
Kotoran burung tersebut dimanfaatkan untuk pupuk,” tutur Tonidi.
Sementara itu Dedy Saptaria Rosa, VP Sustainability PT Bukit Asam Tbk (PTBA), mengungkapkan bahwa budidaya burung puyuh merupakan bagian dari program Dorong Ekonomi Sektor Agrikultur Dengan Inovasi Menuju Pengelolaan Lingkungan Berkelanjutan (DESA IMPIAN) yang diinisiasi PTBA.
