Ia berpendapat, sejumlah kesepakatan seperti ASEAN-China Comprehensive Strategic Partnership tetap menjadi motor penggerak di balik hubungan perdagangan dan investasi yang timbal balik antara kedua wilayah.
ASEAN dan Tiongkok juga memperluas kolaborasi yang meningkatkan kapabilitas ASEAN di sejumlah bidang, seperti manufaktur canggih, kecerdasan buatan, e-commerce, dan aspek keberlanjutan.
“Seluruh langkah ini menjadi landasan bagi peluang pertumbuhan digital,” tukas Dr Kao.
Pelonggaran Kebijakan Penanganan Pandemi
BACA JUGA: RUPST Bank Mandiri Sepakat Tebar Dividen Rp 24,7 Triliun
Di sisi lain, Tengku Zafrul Aziz memaparkan hubungan ekonomi ASEAN-Tiongkok sebagai motor penggerak pertumbuhan di Asia.
Menurut ia, pelonggaran kebijakan penanganan pandemi kelak semakin mempererat hubungan tersebut dan kerja sama mendatang.
Setelah Tiongkok menjadi mitra dagang terbesar ASEAN, dan salah satu investor asing terbesar di Malaysia.
“Malaysia siap mendukung Belt & Road Initiative (BRI) gagasan Tiongkok dengan SDM yang terampil dan multilingual guna meningkatkan pertumbuhan regional,” tukasnya.
BACA JUGA: Otoritas Bandara Hong Kong Sponsori Kampanye World of Winners
Sejarah Kerjasama Tiongkok dan ASEAN
Dr Qi Bin dari China Investment Corporation (CIC) membagikan pandangan tentang pemulihan cepat ekonomi Tiongkok dari dampak epidemi.
Landasan industri yang kuat dan basis konsumen yang masif di Tiongkok turut menjadikan negara ini pilihan ideal.
Tak hanya bagi sektor manufaktur, namun juga pasar yang sangat menarik bagi perusahaan global.
BACA JUGA: Penjualan NFT Manga Populer Jepang Kapten Tsubasa Mulai 2 Maret 2023
