“Kerusakan itu tidak diperbaiki karena pemerintah tidak melanjutkan pendanaan, sebab warga sekitar menolak untuk Kampung Arab Al Munawar ini dijadikan tempat wisata,” ungkapnya. Kini, setelah aktivitas wisata berhenti sepenuhnya, suasana kampung jauh berbeda.
BACA JUGA:Program HK Hadir di Sumatera, Wujudkan Kemandirian Ekonomi dan Pendidikan Berkualitas
BACA JUGA:Suka Belajar Bahasa Mandarin? Chinesia Luncurkan Kelas Live & Privat Global Mulai Mei ini
Warga mengaku lebih tenang dan merasa damai tanpa lalu lalang wisatawan.
“Situasi sekarang setelah wisata Kampung Arab ini ditutup, kampung jauh lebih tenang dan damai sebab tidak ada lagi orang datang. Juga minim terjadi konflik antarwarga, karena dulu ketika masih ramai pengunjung sering terjadi kesalahpahaman tentang tiket masuk, parkir, dan lain-lain,” katanya.
Meski begitu, sebagian pihak menyayangkan penutupan kawasan ini karena dinilai menghentikan potensi besar wisata sejarah dan budaya Palembang.
Kampung Arab Al Munawar dikenal sebagai salah satu situs penting penyebaran Islam dan percampuran budaya Arab-Melayu yang masih kuat hingga kini.
BACA JUGA:Yoga Slim 7i Carbon 2022: Laptop Ultra-Ringan Berkekuatan Intel Evo 17
BACA JUGA:PERHATIAN! Batik Air Sampai 28 Maret 2023 Beralih Sementara di Bandara Soekarno-Hatta
Rumah-rumah panggung dari kayu ulin, gang sempit di tepi Sungai Musi, serta suasana religius yang khas sempat menjadi daya tarik utama bagi wisatawan.
Namun bagi warga, ketenangan jauh lebih berharga daripada keuntungan ekonomi dari pariwisata.
Mereka menganggap konsep wisata di kawasan pemukiman padat seperti ini memang sulit diterapkan tanpa menimbulkan gesekan.
“Dulu katanya buat angkat budaya, tapi ujung-ujungnya malah bikin ramai, gaduh, dan banyak salah paham,” tambahnya lagi.
BACA JUGA:Lenovo ThinkPad L13 & ThinkPad L13 Yoga hadir sebagai Laptop Awet yang Unik dan Profesional
BACA JUGA:Gerak Cepat Pengelola SDJ Tangani Truk Batubara KBU Tergelincir, Nihil Pencemaran Sungai Musi









