TUJUANSATU.COM – Kawasan bersejarah Kampung Arab Al Munawar di Seberang Ulu Palembang kini kembali sepi setelah sebelumnya dikenal sebagai salah satu destinasi wisata budaya yang ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara.
Di balik keindahan arsitektur rumah kayu tua dan nilai sejarahnya, kawasan ini ternyata menyimpan kisah penolakan warga terhadap aktivitas wisata yang dianggap mengganggu privasi dan ketenangan mereka.
Salah satu warga setempat mengungkapkan bahwa penyebab utama ditutupnya wisata Kampung Arab ini karena banyak warga yang protes terkait masalah privasi.
Sejak kampung tersebut dijadikan destinasi wisata, aktivitas warga sering terganggu oleh kehadiran turis yang terlalu ingin tahu kehidupan masyarakat di dalam lingkungan permukiman. “Penyebab utama wisata Kampung Arab ini ditutup karena banyak warga sekitar yang protes dengan masalah terkait privasi,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Selasa 4 November 2025.
BACA JUGA: Bhayangkari SIP 53.1 Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Warga Terdampak di Sumbar
Menurutnya, turis yang datang tidak jarang ingin melihat langsung ke dalam rumah warga.
“Terkadang turis ingin melihat langsung ke dalam rumah. Padahal kami di sini tinggal, bukan tempat pamer. Lama-lama warga merasa tidak nyaman,” jelasnya.
Selain itu, warga juga menolak rencana pembangunan infrastruktur tambahan yang sempat direncanakan pemerintah.
Seperti penyambungan akses dermaga dari kawasan 10 Ulu ke Kampung Arab.
BACA JUGA:CUBC Payment Link Portal, Transaksi di Industri Pariwisata Kian Mudah dan Aman
BACA JUGA:Jelang Libur Panjang Mei 2025, BRI Pastikan Keandalan Layanan
Rencana tersebut dianggap bisa semakin memperbesar arus wisatawan yang keluar-masuk dan menambah gangguan terhadap kehidupan warga.
“Bahkan dulu sempat dermaga itu mau disambungkan jalannya dari 10 Ulu, tapi tidak diperbolehkan warga sini karena takut mengganggu privasi,” lanjutnya.
Penolakan warga ini berdampak besar, proyek perbaikan fasilitas dan promosi wisata akhirnya terhenti setelah pemerintah menghentikan pendanaan. Menurut warga, kerusakan fasilitas yang ada dibiarkan begitu saja karena tidak ada lagi alokasi dana untuk pengelolaan wisata.









