Biasanya metode ini digunakan kontraktor dalam membangun jenis pekerjaan gedung dan bangunan,” terang Aditya.
Selain metode DCM, konstruksi Jalan Tol Probolinggo – Banyuwangi Paket II HKI juga mengimplementasikan Building Information Modelling (BIM) yang didukung dengan penggunaan Light Detection and Ranging (LiDAR) untuk menghasilkan pemetaan topografi dan pembuatan model 3D dari lingkungan yang akan dibangun.
BACA JUGA: SK Menteri PUPR Terbit, Tol Binjai – Stabat Sumut Segera Penyesuaian Tarif
BACA JUGA: Tol Binjai – Pangkalan Brandan Sumut Bakal Tersambung Tahun Ini
Dengan menggunakan BIM, proses konstruksi di lapangan menjadi lebih efektif dikarenakan perencanaan konstruksi yang matang dan detail untuk mengurangi rework dan waste.
Jika nantinya Jalan Tol Probolinggo-Banyuwangi Paket II dioperasikan, tol ini akan mempercepat pengiriman logistik ke atau dari Jawa Timur dan meningkatkan kondisi ekonomi di sekitar jalan tol.
“Kami mohon doa dan dukungan masyarakat agar pembangunan Tol Probolinggo – Banyuwangi Paket II Kraksaan-Paiton bisa segera kami selesaikan dengan baik dan memberikan dampak positif bagi masyarakat Jawa Timur dan sekitarnya,” tutup Aditya.
Sebagai informasi, hingga saat ini HKI telah membangun Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) sepanjang ±435,92 km.
BACA JUGA: Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan, Hutama Karya Perkuat UMKM di Rest Area Jalan Tol
BACA JUGA: HK Realisasikan Dana TJSL Rp 25,84 Miliar Selama 2024
Adapun ruas tol lainnya yang masih dalam proses konstruksi yaitu Tol Lingkar Pekanbaru (30,57 km), Betung-Jambi Seksi IA, (30,8 km) Betung-Jambi Seksi 1B (31,6 km).
Lalu, Betung-Jambi Seksi 2A (35,92 km), Betung-Jambi Seksi 2B (18,40 km), Betung-Jambi Seksi IV (18,5 Km), Palembang-Betung Seksi III (14,6 km), dan Palembang-Betung Struktur (10,12 km).
Selain itu, Untuk proyek non-JTTS HKI juga tengah mengerjakan Jalan Tol Jakarta – Cikampek Selatan II Paket IIA (11,3 km).
