Berkat kerja sama antara komunitas dan aparat, kasus tersebut berhasil masuk ke ranah hukum.
Namun Victor menekankan bahwa kasus serupa masih terus terjadi karena belum ada regulasi yang tegas.
“Buktinya, kalau kita mau, kita bisa. Masalahnya selama ini bukan tidak bisa, tapi tidak mau,”
tuturnya.
Ia juga menyoroti perlunya kepedulian dan kolaborasi dalam menyelamatkan hidup makhluk
hidup yang kerap mendapat perlakuan sebagai komoditas.
BACA JUGA: Yuk Kenalan dengan Awesome Intelligence, yang Ngerasa Gen Z Wajib Coba!
BACA JUGA: Ruas Tol Junction Palembang Ramp 2 dan 3 Segera Berbayar
Sisi Ilmiah dan Kesehatan Publik dari Konsumsi Daging Anjing
Dalam sesi berikutnya, Erwan Budi Hartadi dari Center for Tropical Medicine UGM memaparkan sisi ilmiah dan kesehatan publik dari konsumsi daging anjing.
Ia menjelaskan bahwa Yogyakarta merupakan wilayah ketiga tertinggi dalam konsumsi daging anjing di Pulau Jawa.
Di DIY jelas Erwan, terjadi penyembelihan lebih dari 6.000 anjing tiap bulannya.
BACA JUGA: Sun Life dan Beyond Sport Launching Hoops + Health, Tujuannya Gugah Generasi Muda
BACA JUGA: Cathay United Bank Borong 6 Penghargaan dari Retail Banker International atas Keunggulan Digital
“Daging anjing berasal dari perdagangan ilegal tanpa pemeriksaan kesehatan—ini adalah potensi bom waktu,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa penyembelihan anjing bukan hanya kejam, tetapi juga membuka peluang penyebaran zoonosis seperti rabies dan leptospirosis.
