WoDEF 2025: Eksploitasi Hewan Akuatik dan Krisis Lingkungan yang Terabaikan

Hari ini, dunia memperingati World Day for the End of Fishing and Fish Farming atau WoDEF.

YOGYAKARTA, TUJUANSATU.COM – Hari ini, dunia memperingati World Day for the End of
Fishing and Fish Farming atau WoDEF.

Para pegiat di seluruh dunia menyerukan perhatian terhadap penderitaan hewan akuatik—miliaran di antaranya dieksploitasi dan dibunuh setiap tahun dalam industri perikanan dan akuakultur.

Meskipun mereka adalah makhluk yang cerdas dan memiliki perasaan, ikan dan hewan laut lainnya sering mengalami perlakuan tidak manusiawi, praktik yang tidak berkelanjutan, serta perusakan lingkungan.

Secara global, sekitar 1,1-2,2 triliun ikan liar ditangkap setiap tahun, sementara 124 miliar ikan budidaya dibunuh untuk konsumsi.

BACA JUGA: Update Arus Mudik, 127.424 Kendaraan Lintasi Jalan Tol Trans Sumatera

BACA JUGA: Cathay United Bank Raih Gelar Best Wealth Management Bank in Taiwan dari The Asian Banker

Banyak yang mengalami penderitaan selama berjam-jam sebelum mati—dibuang isi perutnya saat
masih hidup, mati lemas, atau dibunuh dengan metode yang menyakitkan.

Dalam budidaya, ikan hidup dalam kondisi padat, kekurangan oksigen, dan rentan terhadap penyakit.

Sementara itu, dalam budidaya udang, pemotongan tangkai mata dilakukan secara menyakitkan untuk mempercepat reproduksi.

Menurut PBB, ekosistem laut terus-menerus berada dalam risiko akibat eksploitasi berlebihan serta praktik penangkapan ikan ilegal.

BACA JUGA: Indonesia dan Estonia Jajaki Kerjasama Industri Dairy Products

BACA JUGA: Nasabah BRI Bisa Transaksi saat Ramadan dan Idul Fitri 2025