Kemudian, Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar, Eko Susanto menjelaskan peran dinas pada kesejahteraan hewan dan sistem peternakan ayam petelur bebas sangkar.
“Melihat tren pasar Asia dan global yang semakin mengutamakan kualitas dan etika, serta menyadari bahwa tren pasar akan terus berubah seiring meningkatnya kecerdasan konsumen,” ulas Eko.
Hal ini timpal Eko, menjadi pilihan strategis bagi pemilik peternakan dalam menyesuaikan diri dengan perkembangan yang ada.
“Oleh karena itu, kami mendorong peternak di Blitar untuk mulai menerapkan sistem cage-free sebagai
alternatif yang lebih sehat, berperikehewanan, dan memiliki potensi pasar yang jelas,” imbuhnya.
BACA JUGA: Komitmen PT SLR Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat dan Melindungi Lingkungan Area Operasional
BACA JUGA: Manajemen Risiko Efektif dan Prudent, Kualitas Kredit BRI Semakin Membaik
Eko berharap sarasehan ini menjadi titik awal bagi peternak Blitar untuk mempelajari lebih lanjut mengenai sistem bebas sangkar yang memperhatikan kesejahteraan hewan.
Di sisi lain, Animal Welfare Specialist AFJ drh. Desti Ika Yanti mengemukakan, permintaan telur bebas sangkar semakin meningkat, baik dari konsumen maupun pasar internasional.
Meskipun demikian sambung Desti, ketersediaannya masih terbatas.
“Hal ini menunjukkan adanya peluang besar bagi peternak untuk menerapkan sistem bebas sangkar pada industri peternakannya,” cetus Desti.
BACA JUGA: Hasil Drawing dan Daftar Grup Babak 16 Besar Liga 4 2024/2025 Diumumkan, Ini Jadwal Laganya
BACA JUGA: Bank Terbaik Versi Global Markets Media, Cathay United Bank Sediakan Layanan Keuangan Berkelanjutan
Sistem bebas sangkar sebagai salah satu sistem yang memenuhi kesejahteraan hewan serta inovasi usaha yang punya daya tawar dan daya tarik dengan segmentasi pasar tertentu.
Dengan semakin banyaknya peternak di Blitar yang mengetahui sistem peternakan bebas sangkar, harapannya akan tumbuh lebih banyak inisiatif yang mendorong peningkatan kesejahteraan ayam petelur.







