BACA JUGA: Penjualan Eceran Tumbuh 2,1 Persen yoy pada Mei 2024, Ini yang Mendorongnya
BACA JUGA: 2 Ruas Jalan Tol Trans Sumatera Rampung Tahun Ini
“Indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk muslim terbanyak.
Tapi sebelum hadirnya BSI, tidak ada bank syariah besar.
Ini merupakan anomaly, padahal kita punya potensi besar untuk mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah,” jelas Hery.
Ketika melakukan merger tiga bank syariah milik Himbara, yaitu BRI Syariah, Mandiri Syariah, dan BNI Syariah, Hery menceritakan bahwa dirinya menghadapi tantangan yang besar.
BACA JUGA: BNI Luncurkan wondr by BNI, Solusi Pengelolaan Keuangan Lebih Terencana
Merger BSI berlangsung di saat pandemi Covid-19 melanda, namun di bawah kepemimpinan Hery proses integrasi tersebut dapat selesai sesuai jadwal yakni dalam tempo 11 bulan.
Hery mengungkapkan, bahwa ketika mendapat amanah untuk memimpin proyek merger tersebut, sebagai seorang leader, dia menyadari bahwa mengawal proses merger dengan visi dan misi yang besar bukanlah tugas yang mudah.
Dia menceritakan bahwa saat merger, BSI harus melakukan transformasi, termasuk teknologi dan digital, serta menjadi bank syariah yang mampu bersaing dan kompetitif.
Sehingga BSI dapat memenuhi segala kebutuhan berbagai segmen konsumen dari segi bisnis apapun.
BACA JUGA: BRIS Sukses Masuk Indeks PEFINDO i-Grade
BACA JUGA: Perkenalkan Nusantara Lebih Dekat pada Joint Working Group Indonesia-France 2024
Tantangan integrasi ini, lanjut Hery, harus dijawab dengan solusi yang tepat agar konsolidasi dapat mendorong daya saing bank syariah.
Selain itu, tim merger juga harus memastikan bahwa semua proses berjalan sesuai dengan regulasi dan standar yang berlaku, baik dari sisi operasional, keuangan, maupun kepatuhan.







