Misalnya, anak menangis karena tidak bisa pergi ke taman sebelum merapikan kamar. Kamu bisa mengatakan, “Ibu/Ayah juga merasa kesal kalau tidak bisa melakukan hal yang diinginkan.”
BACA JUGA : 6 Sayuran yang Sebaiknya Tidak Disimpan di Dalam Kulkas!
BACA JUGA : Bukan Hanya Kopi, Ini 4 Minuman Pagi untuk Meningkatkan Fokus!
Kamu juga dapat menjelaskan bahwa terkadang seseorang merasa kesulitan ketika harus melakukan sesuatu yang tidak ingin dikerjakan. Dengan demikian, anak belajar bahwa perasaan mereka dapat dipahami.
3. Berikan Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
Anak perlu belajar mengomunikasikan emosi, dan orang tua dapat menjadi contoh dalam proses tersebut. Biasakan membahas perasaan serta menggunakan istilah emosi dalam percakapan sehari-hari.
Misalnya, kamu bisa mengatakan, “Ibu merasa marah saat melihat anak-anak bersikap jahat di taman bermain.” Contoh lainnya, “Ayah merasa senang saat teman-teman kita datang untuk makan malam.”
BACA JUGA : Ternyata Ini 5 Manfaat Kesehatan Rebusan Daun Salam dan Serai!
BACA JUGA : 4 Hal yang Bisa Membuat Kamu Sulit Tidur Tanpa Kamu Sadari!
Menurut penelitian yang disebutkan dalam naskah sumber, orang tua dengan kecerdasan emosional cenderung menerapkan pola asuh yang membantu anak mengembangkan EQ.
4. Kembangkan Keterampilan Pemecahan Masalah
Belajar mengatasi kesulitan merupakan bagian penting dari pengembangan kecerdasan emosional. Setelah mengenali dan menyikapi emosi, anak perlu belajar mencari solusi atas masalah yang dihadapi.
Misalnya, anak merasa kesal karena saudaranya terus mengganggu saat bermain video game. Bantu anak memikirkan setidaknya lima solusi untuk menghadapi situasi tersebut.
BACA JUGA : Waspada! Inilah 4 Pemicu Asma yang Tak Terduga
BACA JUGA : 3 Tahapan Perkembangan Otak Anak & Cara Mengoptimalkannya







