TUJUANSATU.COM – Dunia perbankan tanah air lagi ramai membahas isu hangat dari Bank Mandiri.
Beredar kabar bahwa para pegawai “diwajibkan” untuk mengambil produk Kredit Emas.
Sontak, kabar ini langsung memicu perbincangan hangat di kalangan profesional perbankan maupun netizen.
Dorongan Investasi atau Target Bisnis?
BACA JUGA: Bank Mandiri Sabet 2 Penghargaan Bergengsi dari The Asian Banker (TAB)
BACA JUGA: Bank Mandiri Optimalkan Ekosistem Wholesale, Jangkau Sektor Potensial
Di satu sisi, emas dikenal sebagai aset safe haven yang tahan inflasi.
Mengarahkan karyawan untuk memiliki tabungan emas sebenarnya bisa menjadi langkah positif dalam meningkatkan financial wellness internal.
Namun, penggunaan kata “wajib” mengundang tanda tanya besar.
Apakah kebijakan ini murni bentuk edukasi finansial, atau justru strategi push product demi mengejar target cross-selling perusahaan?
BACA JUGA: Bank Mandiri Sukses Raih 2 Gelar DKJ Awards 2024
BACA JUGA: Dengan Livin’ KPR, Bank Mandiri Hadirkan Solusi Kepemilikan Rumah bagi Nasabah
Poin Kunci Isu Kredit Emas Mandiri
1. Literasi Keuangan: Mendorong budaya menabung aset berharga jangka panjang sejak dini.
2. Beban Finansial Bulanan: Skema pemotongan gaji untuk cicilan emas berpotensi mengganggu cash flow harian pegawai.
