Dia menjelaskan, Indonesia sebagai negara produsen dan eksportir utama batubara termal di dunia, saat ini pasokan batubara didominasi tambang-tambang yang ada di Kalimantan.
Masalahnya, biaya stripping atau pengedukan batubara di Kalimantan sudah semakin mahal lantaran usia penambangan yang sudah cukup lama.
Dengan biaya pengedukan yang kian mahal, harga menjadi tidak kompetitif.
“Ruang inilah yang menjadi masa depan kami,” tutur Victor berbinar.
BACA JUGA: Ini Cara Gercep Titan Group Tanggulangi Fenomena Swabakar di Tumpukan Batubara
Optimisme Victor itu tidak berlebihan.
Fakta menunjukkan, saat ini Sumatera adalah penghasil batubara terbesar ke dua di Indonesia.
Dan Sumatera Selatan, di mana operasi TIS berada, adalah penyumbang terbesar dari produksi batubara di Sumatera.
Cadangan batubara di Sumatera Selatan tercatat sebanyak 9,3 miliar ton.
BACA JUGA:Genjot Penjualan, Bukit Asam Tingkatkan Kapasitas Angkutan Batu Bara
Jumlah ini 25% dari cadangan batubara nasional yang mencapai 37,6 miliar ton.
Konsentrasi tambang batubara di Sumatera Selatan berada di tiga wilayah kabupaten, yakni Muara Enim, Lahat, dan Ogan Komering Ulu.
Di Muara Enim saja setidaknya ada 29 izin usaha pertambangan yang keluarkan pemerintah.
Tahun ini, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Sumatera Selatan menargetkan produksi batubara mencapai 131 juta ton.
BACA JUGA: Gerak Cepat Pengelola SDJ Tangani Truk Batubara KBU Tergelincir, Nihil Pencemaran Sungai Musi
Angka-angka itulah masa depan TIS.
Ketika lumbung batubara di Kalimantan mulai menipis dan biaya produksi makin mahal, tak pelak batubara Sumatera Selatan akan dilirik pembeli.
Lantas, berapa besar TIS akan melepas sahamnya ke publik.
“Sesuai aturan bursa minimal kami akan melepas saham sebesar 10 persen,” pungkas Suryo.
