Lalu, area penampungan kontainer seluas 19.000 meter persegi, depo empty seluas 9.700 meter persegi, area pergudangan, perkantoran, dan area pengelolaan limbah.
Secara keseluruhan, Pelabuhan Anggrek dirancang dalam area pengembangan seluas 4,8 hektar dari total luas 9,3 hektar sesuai Rencana Induk Pelabuhan.
BACA JUGA: Hutama Karya Jadi BUMN Infrastruktur Terbaik di Indonesia
BACA JUGA: Pengaspalan Proving Ground Masuki Tahap Finalisasi, Diproyeksi Selesai Akhir April 2025
Dikatakan Adjib, pengembangan Pelabuhan Anggrek akan menjadi katalis pertumbuhan ekonomi di Provinsi Gorontalo dan kawasan sekitarnya.
Dengan kapasitas sekitar 30.000 sd 35.000 TEUs per tahun, lanjut dia, biaya logistik diperkirakan dapat turun hingga 15-25 persen dibandingkan sebelumnya.
Ini akan meningkatkan daya saing komoditas lokal, seperti jagung, ikan, dan hasil perkebunan serta menciptakan sekitar 500 hingga 700 lapangan kerja baru, baik langsung maupun tidak langsung,” imbuh Adjib.
Setelah beroperasi penuh nantinya, Pelabuhan Anggrek akan melayani rute-rute utama seperti Anggrek-Makassar-Surabaya, Anggrek-Bitung-Ternate-Sorong, serta menghubungkan Gorontalo dengan pelabuhan-pelabuhan utama nasional.
BACA JUGA: 2 Proyek RSUD Digarap HK di Kawasan Tengah dan Timur Indonesia, Disini Lokasinya
BACA JUGA: Groundbreaking RSUD Tafaeri Nias Utara, Pembangunan Ditarget Rampung 19 Desember 2025
Pelabuhan ini juga menerapkan konsep green port dengan penggunaan lampu LED hemat energi, pengelolaan limbah terintegrasi, dan area penghijauan sebagai bagian dari komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan.







