Inilah Beberapa Rekomendasi Film Cocok Buat Kamu Yang Sinefil

Film ini menjadi salah satu tonggak dalam sejarah representasi LGBTQ+ di sinema, dan film ini tidak mendapat pengakuan luas dan kini nyaris tenggelam dalam sejarah.

3. Napoléon (1927)

Durasi film ini mencapai 5 setengah jam! Bisa jadi kenapa Napoléon jarang ditonton zaman sekarang. Padahal, film bisu karya Abel Gance ini dianggap sebagai karya monumental yang menginspirasi banyak sineas besar, termasuk Sergei Eisenstein. Dikenal sebagai film biografi epik, Napoléon menampilkan skala produksi yang luar biasa untuk zamannya.

BACA JUGA: Tips Ampuh Lupain Dia, Hidupmu Tetap Seru Meski Dia Menghilang

BACA JUGA: ‘The Fantastic Four: First Steps’, Kisah Keluarga Super Hero dengan Nuansa Retro-Futuristik di Layar Lebar

Gance menggunakan teknik bernama Polyvision yaitu format layar lebar tiga panel yang sangat revolusioner. Hasilnya, pengalaman visual yang memukau, meski membutuhkan stamina ekstra untuk menonton hingga habis. Saat ini, nama Napoléon lebih sering dikaitkan dengan film modern seperti karya Ridley Scott. Sedangkan versi klasik ini mulai dilupakan.

4. Suspense (1913)

Nama Lois Weber mungkin tak sepopuler Alfred Hitchcock, tapi ia adalah salah satu pionir film thriller di era awal Hollywood. Film pendek Suspense memperkenalkan teknik split-screen yang revolusioner dan menjadi contoh awal dari adegan kejar-kejaran mobil yang penuh ketegangan.

Film ini, dengan berani Weber mengangkat tema kekerasan terhadap perempuan sebagai tema utama. Ia memerankan seorang ibu muda yang terjebak di rumah bersama bayinya saat seorang pria asing berusaha masuk dengan niat jahat.

BACA JUGA: Ini Dampak Sering Begadang dan Cara Menghindarinya

BACA JUGA: International Charity Concert 100 CTFP Segera Digelar di Jakarta, Hadirkan Aksi Amal Global

Meski hanya berdurasi singkat, film ini penuh inovasi teknis dan muatan sosial yang mendalam. Namun, seperti kebanyakan karya sutradara perempuan lain pada masa itu, film ini jarang dibicarakan.5. The Seashell and the Clergyman (1928)

Sebelum Un chien andalou (1929) karya Buñuel dan Dalí muncul, film surealis pertama sejatinya adalah The Seashell and the Clergyman karya Germaine Dulac.

Teknik editing dalam film ini abstrak dan penuh imajinasi. Dulac menyusun kisah tentang obsesi seorang pendeta terhadap istri orang lain dalam gaya visual yang menggugah.

Film ini menampilkan citra-citra surealis nan memikat yang membawa penonton ke dunia bawah sadar yang ganjil dan Dulac menyisipkan sudut pandang feminis dalam ceritanya. Sebuah langkah yang sangat progresif pada masanya. Sayangnya, kontribusi besar Dulac sebagai pionir film surealis dan sineas queer perempuan masih jarang dirayakan secara luas hingga kini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *