#SuratuntukSara: Seruan Perempuan Nelayan Kupang kepada Wakil Rakyat

Ia juga menegaskan pentingnya petisi online “3x Lipat Energi Terbarukan 2030” sebagai langkah nyata menuju transisi energi.

Tanpa peningkatan target sambungnya, penghentian energi fosil, dan efisiensi energi, target net zero 2050 hanyalah mimpi.

“Indonesia memiliki potensi besar namun kita belum memanfaatkannya secara optimal,” tukas Sisilia.

Dina Soro dari Yayasan PIKUL turut menyatakan, Wilayah Indonesia Timur, termasuk NTT, berada di garis depan krisis iklim.

BACA JUGA: Menlu RI akan Hadiri Pertemuan Tingkat Menlu BRICS di Brasil, Ini Tujuannya

BACA JUGA: BRI Salurkan KUR Senilai Rp42,23 Triliun hingga Akhir Maret 2025

Dampaknya terlihat dari kekeringan ekstrem, badai tropis, dan banjir bandang.

“Siklon Seroja adalah contoh nyata,” singgungnya.

Ia menambahkan, NTT menghadapi tantangan serius di sektor pertanian dan perikanan.

Gagal panen, rusaknya ekosistem laut, serta ketidakpastian musim tanam dan tangkap, menunjukkan bahwa krisis iklim bukanlah ancaman masa depan tetapi krisis yang sudah terjadi hari ini.

BACA JUGA: Cathay United Bank Kantongi Izin FSC Taiwan, untuk Apa Kira-Kira?

BACA JUGA: Maggot Berpeluang Jadi Bisnis Menjanjikan, untuk Pakan Ternak hingga Obat-obatan

Isu keadilan antar generasi juga menjadi sorotan penting dalam pertemuan ilmiah ini.

Febriani Nainggolan dari Climate Rangers Jakarta menegaskan anak muda akan menjadi kelompok yang paling lama menanggung beban krisis iklim jika kebijakan saat ini tidak berubah secara signifikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *