JAKARTA, TUJUANSATU.COM – Deflasi bulanan terjadi di Indonesia pada Februari 2025.
Angka deflasi tersebut sebesar -0,48 persen mom.
Demikian terungkap dalam Daily Economic and Market Review di laman Website Bank Mandiri, 4 Maret 2025.
Angka tersebut melanjutkan deflasi sebesar -0,76 persen mom pada Januari 2025.
BACA JUGA: Saham BRIS Naik 4.78 Persen Bulan Ini, Tertinggi Dibanding Perbankan Lain
BACA JUGA: Survei Bank Indonesia, Kenaikan Harga Properti Residensial Melambat
Kebijakan pemerintah dalam pengendalian harga pangan serta diskon tarif listrik sebesar 50 persen untuk rumah tangga dengan daya listrik hingga 2.200 VA, menjadi faktor yang mendorong deflasi pada Februari 2025.
Deflasi didorong oleh kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices).
Komponen harga yang diatur pemerintah mengalami deflasi yang lebih dalam, mencapai -9,02 persen (yoy) pada Februari 25 dari -6,41 persen (yoy) pada bulan sebelumnya.
Sementara itu, inflasi komponen harga bergejolak (volatile price) turun menjadi 0,56 persen (yoy) dari 3,07 persen (yoy) pada bulan sebelumnya, didorong oleh penurunan harga pangan.
BACA JUGA: Bank Indonesia Catat Cadangan Devisa USD 156,1 Milyar, Meningkat USD 0,4 Milyar
BACA JUGA: Bank Mandiri Optimalkan Ekosistem Wholesale, Jangkau Sektor Potensial
Kelompok pengeluaran untuk perumahan, air, listrik, dan bahan bakar lainnya mencatat deflasi yang lebih dalam.
Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar lainnya mengalami deflasi sebesar -12,08 persen (yoy) pada Februari 2025 dari -8,75 persen (yoy) pada Januari 2025, sejalan dengan adanya diskon tarif listrik yang masih berlanjut.












