HK Kebut Pemeliharaan Jalan Tol Trans Sumatera, Antisipasi Lonjakan Arus Mudik 2025

Percepatan pemeliharaan ruas jalan tol oleh Hutama Karya, sebagai antisipasi estimasi lonjakan mobilitas selama mudik 2025  

“Karena adanya pekerjaan ini kami mengimbau kepada pengguna jalan, agar dapat lebih berhati-hati selama periode ini dan menyesuaikan kecepatan saat melintas di area pemeliharaan,” imbuh Adjib.

Rincian pemeliharaan rigit di ruas Tol Terpeka, yakni KM 183+525 hingga KM 184+905 Jalur A, KM 231+ 228-215+598 jalur B, KM 187+433 – KM 173+215 jalur B, KM 141+120 hingga KM 211+060.

BACA JUGA: Total Jalan Tol di Indonesia Sepanjang 2.893,02 Km, yang Tertua Tol Jagorawi

BACA JUGA: SK Menteri PUPR Terbit, Tol Binjai – Stabat Sumut Segera Penyesuaian Tarif

Lalu, KM 247+830 – KM 272+718 Jalur A, KM 273+995 hingga KM 306+439 jalur A, dan KM 287+810 hingga KM 222+616 jalur B.

“Pemeliharaan rigit di ruas Tol Terpeka dengan target penyelesaian pada awal Maret 2025,” ujar Adjib.

Sementara untuk Tol Permai, lanjut dia, pemeliharaan SFO dilakukan sejumlah titik, yakni KM 64+350 – KM 64+400 jalur A, KM 66+770 hingga KM 66+820 Jalur A, KM 69+380 hingga KM 69+430 Jalur A, dan KM 78+300 – KM 80+600 jalur A.

“Pemeliharaan SFO di Tol Permai, ditargetkan rampung pada minggu ke-2 Maret 2025,” ujar Adjib.

BACA JUGA: Tol Binjai – Pangkalan Brandan Sumut Bakal Tersambung Tahun Ini

BACA JUGA: Digitalisasi Pelayanan Jalan Tol, HKA Kembangkan 2 Aplikasi

Pemilihan kedua metode tersebut, menurut Adjib, berdasarkan hasil inspeksi kondisi jalan dan analisis kebutuhan perbaikan.

Dimana metode SFO dipilih karena lebih efektif dalam menangani perkerasan fleksibel yang mengalami alur, retak, dan lubang akibat beban lalu lintas tinggi, dengan proses pengupasan aspal lama, pengisian kembali material, dan pelapisan ulang untuk memastikan permukaan jalan lebih rata, tahan lama, serta meningkatkan kenyamanan berkendara.

Sementara itu, rekonstruksi beton rigid diterapkan pada perkerasan yang mengalami retak atau deformasi signifikan, karena metode ini mampu mengembalikan kekuatan dan stabilitas jalan secara menyeluruh.

“Pemilihan kedua metode ini disesuaikan dengan karakteristik kerusakan jalan agar pemeliharaan lebih optimal, meminimalkan risiko perbaikan berulang, dan memastikan kondisi jalan tol tetap prima serta aman bagi pemudik selama Mudik Lebaran 2025,” tutur Adjib.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *