Respons Cepat: Tim Gabungan Turun Gunung
Menanggapi insiden tersebut, tim tanggap darurat dari pihak pengelola tambang bersama BPBD Muara Enim, Manggala Agni, TNI-Polri, serta relawan pemadam kebakaran setempat langsung bergegas menerjunkan personel dan armada ke titik lokasi.
Petugas di lapangan menerapkan strategi khusus mengingat sifat api batubara yang kerap menyusup ke bawah permukaan (underground fire), di antaranya:
BACA JUGA : Volume Ekspor Batu Bara Indonesia Turun pada Februari 2025, Ini Penyebabnya
BACA JUGA : Genjot Penjualan, Bukit Asam Tingkatkan Kapasitas Angkutan Batu Bara
1. Penyiraman Intensif (Wetting): Armada water cannon dan truk tangki pemadam dikerahkan untuk melakukan penyiraman skala besar pada titik api terbuka (surface fire).
2. Pembuatan Sekat Bakar: Alat berat seperti excavator dan bulldozer dikerahkan untuk mengeruk tanah dan membuat parit isolasi guna memutus rantai perambatan api.
3. Injeksi Air ke Dalam Tanah: Untuk mengatasi bara batubara di bawah tanah, petugas melakukan pembasahan mendalam guna memastikan tidak ada sisa sumber panas yang memicu kobaran susulan.
Kendala Medan dan Tantangan Cuaca
BACA JUGA : 3 WNI Raih Penghargaan di Republik Korea, Selamatkan Banyak Korban Kebakaran
BACA JUGA : Jalankan Amanah Pendiri, TIKI Salurkan Donasi untuk Korban Kebakaran di Kemayoran
Proses pemadaman kebakaran di area tambang batubara bukanlah perkara mudah.
Selain suhu ekstrem di lokasi kejadian, petugas harus berhadapan dengan asap pekat yang mengganggu jarak pandang dan pernapasan.
Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap serta tabung oksigen menjadi syarat wajib bagi para petugas yang merangsek mendekati titik pusat api.
Meski medan tergolong berat dan penuh risiko, koordinasi solid inter-lembaga berhasil melokalisir pergerakan api agar tidak merambat ke fasilitas vital perusahaan maupun kawasan pemukiman warga terdekat.













