“Founder saat ini lebih fokus pada fundamental dan memecahkan masalah nyata, yang sangat selaras dengan tesis investasi kami,” imbuhnya.
Ke depan sambung Agung, pihaknya yakin tantangan terbesar bukan akan bersifat teknologi—melainkan sosial.
Kesenjangan antara organisasi yang menggunakan AI dan yang gagal beradaptasi akan melebar secara dramatis.
Kesuksesan tidak hanya akan datang dari memiliki AI terbaik, tetapi dari pemahaman mendalam tentang cara menerapkannya untuk memecahkan masalah nyata.
BACA JUGA: QNB Group: Laporan Keuangan Untuk Tahun yang Berakhir pada Tanggal 31 Desember 2024
“Inilah mengapa kami sangat antusias dengan aplikasi AI vertikal, di mana founder menggabungkan keahlian domain dengan kemampuan AI untuk memecahkan tantangan industri spesifik,” tukasnya.
Menurut CB Insights, investasi tahap awal dalam startup berbasis AI telah menunjukkan ketahanan khusus, dengan volume investasi tetap stabil meski terjadi fluktuasi pasar yang lebih luas.
Portofolio Antler mencerminkan tren ini, dengan meningkatnya jumlah founder yang mengintegrasikan AI ke dalam solusi mereka.
Dengan visi bahwa inovasi adalah kunci masa depan yang lebih baik, Antler telah berinvestasi dalam lebih dari 1.400 startup di 6 benua.
BACA JUGA: Kearney Tunjuk Varun Arora sebagai Managing Partner Baru untuk Asia Tenggara
BACA JUGA: Perkuat Startup Teknologi dalam Ekosistem Indonesia, Arrow Electronics Gandeng STARFINDO







