SEOUL, TUJUANSATU.COM – Acara penyerahan Sunhak Peace Prize berlangsung pada Jumat, 11 April 2025 di Crystal Ballroom, Lotte Hotel World, Seoul.
Tampak hadir lebih dari 750 tamu undangan dari seluruh dunia, termasuk para pemimpin dunia, mantan kepala negara, dan perwakilan lembaga masyarakat sipil terkemuka.
Setelah berlangsung selama 10 tahun terakhir, Sunhak Peace Prize mengapresiasi 3 pemimpin ternama.
Mereka telah berkontribusi besar terhadap kelestarian alam, kewargaan global (global citizenship), serta inovasi pendidikan.
BACA JUGA: Silaturahmi Usai Idul Fitri, FIFGROUP Bakti Sosial di 36 Panti Asuhan Se-Indonesia
BACA JUGA: Emas Solusi Investasi, Transaksi Logam Mulia di BSI Bebas Antre
Wanjira Mathai dari Kenya memenangkan Sunhak Peace Prize setelah berkiprah sebagai pemimpin yang memperjuangkan kelestarian alam, terutama melalui inisiatif AFR100 dan Green Belt Movement.
Dengan dedikasinya, Mathai merestorasi alam dengan menanam lebih dari 51 juta pohon yang memulihkan kerusakan lahan di Afrika.
Hugh Evans asal Australia, salah satu Pendiri dan CEO Global Citizen, meraih Sunhak Peace Prize atas komitmen pada global citizenship.
Lewat kiprah Evans, Global Citizen telah menggalang dana lebih dari $43 miliar yang bermanfaat langsung untuk lebih dari 1,3 miliar jiwa di seluruh dunia.
BACA JUGA: Dapur MBG Bakal Hadir di Jambi, Pilot Project bersama Jateng dan Jabar
BACA JUGA: Peluncuran OREO SPACE DUNK, Biskuit Pertama di Dunia yang Menembus Luar Angkasa dari Indonesia
Termasuk mengentaskan kemiskinan, meningkatkan kesehatan, serta memperluas akses pendidikan dan layanan penting.
Patrick Awuah Jr., Pendiri Ashesi University di Ghana, meraih Sunhak Peace Prize setelah berhasil mentransformasi sektor pendidikan tinggi di Afrika.







